
Zohran Mamdani Resmi Menjadi Wali Kota Muslim Pertama di New York. Sumber. cnbcindonesia
Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York menuai kontroversi di tingkat nasional. Meski mencatat sejarah sebagai imigran dan Muslim pertama yang memimpin kota tersebut, pemerintah pusat justru menuding Mamdani berhaluan komunis dan menuntut pencabutan kewarganegaraannya. Di tengah polemik ini, publik terbelah antara yang menilai langkah pemerintah sebagai bentuk diskriminasi dan yang menganggapnya sebagai upaya menjaga stabilitas politik nasional.
Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), jurusan Dirasat Islamiyah, semester lima, Ananda Bintang Kelana mengungkapkan, terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York merupakan suatu fenomena yang mengejutkan, terutama bagi pemerintah pusat Amerika yang memiliki perbedaan identitas dan pandangan politik dengan dirinya. Hal ini menyebabkan para pengecam dari pemerintah pusat berupaya untuk menghentikan jabatannya.
“Sebagai Wali Kota Muslim pertama di New York, wajar kalau pemerintah pusat Amerika khawatir jika nantinya banyak kebijakan yang tidak sejalan. Akan tetapi, kalau sampai dituduh komunis dan diminta dicabut kewarganegaraannya, hal itu sangat berlebihan dan mencerminkan masih adanya bias terhadap pemimpin dari kalangan minoritas,” ungkapnya.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester tiga, Muhammad Adzka Ramadhan mengatakan, kemenangan Zohran Mamdani menunjukkan perubahan besar dalam politik New York. Momen ini juga menjadi sejarah baru bagi New York yang dikenal sebagai kota imigran, yang kini dipimpin oleh seorang imigran Muslim.
“Kemenangan Zohran Mamdani harus dapat memberi harapan dan rasa keterwakilan yang kuat bagi masyarakat imigran di kota New York. Tidak hanya itu, kebijakan sosial dan ekonomi yang dijalankan juga perlu memperhatikan masyarakat non-imigran agar manfaatnya dapat dirasakan secara bersama,” ujarnya.
(Mahendra Dewa Asmara)





