Cegah Radikalisme di Kampus, Kemenag Tekankan Penguatan Dakwah Damai dan Moderasi Beragama

Kemenag sebut pentingnya dakwah damai untuk tangkal radikalisme. Sumber. monitor.co.id


Dalam upaya memperkuat moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi, Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya penguatan dakwah damai sebagai strategi pencegahan penyebaran paham radikal di kampus. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ismail Cawidu, yang menilai bahwa pembinaan tokoh keagamaan dan penguatan nilai moderasi menjadi langkah strategis untuk menjaga ruang akademik tetap inklusif, toleran, dan bebas dari ideologi ekstrem.

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Ilmu Hukum (IH), semester lima, Muhammad Zaky Nur Al Ghifari menyampaikan, dakwah damai merupakan penyampaian nilai-nilai keagamaan dengan penuh kasih serta menghormati keberagaman. Dalam konteks kampus sebagai ruang intelektual yang majemuk, tantangan terhadap radikalisme muncul melalui arus digital yang kerap menyebarkan konten keagamaan ekstrem tanpa proses verifikasi, sehingga mahasiswa rentan terhadap narasi bermuatan intoleran.

“Budaya toleransi perlu tumbuh sebagai karakter hidup dalam lingkungan akademik. Melalui semangat ini, mahasiswa dapat mewujudkan peran sebagai agen dakwah yang menyebarkan nilai-nilai kedamaian, membuka ruang dialog yang inklusif, dan memperkuat harmoni antarsesama warga kampus,” ujarnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Jurnalistik, semester tiga, Muhammad Zaki Arifin menuturkan, potensi penyebaran paham radikal masih rentan terjadi melalui ruang diskusi nonformal dan arus media digital. Kondisi ini menuntut optimalisasi literasi keagamaan moderat di lingkungan kampus agar dakwah dapat berperan sebagai sarana pembinaan yang terbuka, ramah, dan menghargai keberagaman.

“Penguatan nilai moderasi ini juga perlu dibarengi dengan peran aktif mahasiswa sebagai agen dialog. Pembentukan ruang diskusi yang sehat, penghargaan terhadap perbedaan pandangan, serta keteladanan dalam bersikap toleran menjadi kunci terciptanya suasana akademik yang harmonis dan bebas dari pengaruh ideologi ekstrem,” tuturnya.

(Maura Maharani Rizky)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *