Menyiram Bara Ketidakadilan di Tanah Pascakonflik  dengan Gerakan Interseksionalitas

Source: https://images.app.goo.gl/9mTh39ddecXi7a2B8

Damai bisa memadamkan letusan senjata, tapi tidak selalu memadamkan bara di hati. Aceh setelah MoU Helsinki 2005 dan Poso pasca-2001 tampak tenang di permukaan, namun di balik pasar yang kembali ramai dan rapat desa yang kembali bersua, terdapat ketimpangan yang masih mencengkeram.

Akses pendidikan, peluang kerja, dan ruang berpendapat tak mengalir rata, meninggalkan sebagian warga di tepian arus kemajuan. Ketidakadilan seperti ini jarang berdiri sendiri. Ia terbentuk dari lapisan-lapisan persoalan yang berkelindan dan saling memperkuat.

Inilah yang dibaca oleh pendekatan interseksionalitas, sebuah cara pandang yang melihat ketidakadilan sebagai hasil dari berbagai bentuk penindasan yang berjalan bersama, sehingga sulit diurai jika hanya dilihat dari satu sisi. Ketimpangan diwarnai oleh kemiskinan yang diwariskan, diskriminasi identitas yang dibungkus adat, hingga marginalisasi politik yang halus namun mencekik.

Laporan Komnas Perempuan 2023 memotret hal ini dengan gamblang: rekonstruksi pascakonflik gagal membongkar akar ketimpangan. “Perdamaian tanpa keadilan sosial adalah ilusi,” tulis laporan itu, sebuah kalimat yang lebih terasa sebagai tantangan ketimbang sekadar pernyataan.

Source: https://images.app.goo.gl/bZdGaSX7AiRMLJv47

Realitas ini menjadi bahan bakar bagi lahirnya gerakan. Keluhan sehari-hari berubah menjadi percakapan serius; percakapan berubah menjadi rapat; dan rapat berubah menjadi aksi.

Di Aceh, forum pembangunan mulai memaksa pintu partisipasi terbuka untuk suara-suara yang dulu dipinggirkan. Di Poso, koperasi lintas komunitas menjadi poros ekonomi baru, memutus lingkaran pengangguran pascakonflik. Di Papua, pasar tradisional bebas preman berdiri sebagai tempat berdagang sekaligus simbol ruang hidup yang direbut kembali dari ketakutan.

Seorang peneliti konflik dari Universitas Indonesia menilai fenomena ini sebagai gerakan berlapis yang bersifat interseksionalitas: menantang ketidakadilan ekonomi, sosial, dan identitas secara bersamaan. Inilah wajah perlawanan yang diorganisir oleh kebutuhan hidup mendesak serta pengalaman pahit yang dibagi bersama.

Gerakan ini menegaskan satu pesan: keadilan sejati tak lahir dari janji damai. Ia tumbuh diam-diam di akar rumput, disiram oleh ketidakadilan yang terus mengalir, hingga akhirnya mekar menjadi kekuatan kolektif yang sukar diabaikan.

(Syifana Sherry Kamilannisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *