
Indonesia Gelap. Sumber. suaranews.com
Jakarta, Februari 2025 — Gelombang unjuk rasa kembali memenuhi jalanan ibu kota dan puluhan kota besar lainnya. Namun kali ini, lautan massa berpakaian hitam datang bukan hanya membawa tuntutan, melainkan simbol: Indonesia Gelap. Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap kondisi sosial-politik yang dinilai semakin meminggirkan rakyat. Dimulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada 17 Februari 2025, aksi ini kemudian meluas menjadi demonstrasi nasional yang berlangsung selama hampir sepekan.
Isu utamanya adalah pemangkasan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik sebesar Rp 306,7 triliun. Dalam tuntutannya, massa aksi menyuarakan 28 poin penting, termasuk penolakan terhadap program makan bergizi gratis yang dianggap tak menyentuh akar persoalan, kritik terhadap dominasi militer dalam ruang sipil, serta desakan pencabutan UU Minerba yang dianggap merugikan masyarakat adat dan lingkungan hidup.
Aksi ini dengan cepat menyebar ke lebih dari 20 kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Aceh, hingga Makassar. Simbol hitam menjadi identitas bersama, menandai kegelapan yang mereka rasakan atas masa depan bangsa. Di media sosial, tagar #IndonesiaGelap sempat menjadi trending topic nasional, menandakan tingginya resonansi isu ini di kalangan anak muda.
Namun, di balik gaung perlawanan, muncul pula suara kritis dari berbagai pihak. Ketua GP Ansor, pengamat intelijen, dan beberapa tokoh ormas menyatakan kekhawatiran bahwa gerakan ini bisa ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu, apalagi menjelang pemilu. Ada juga pihak yang menilai bahwa narasi “gelap” berpotensi melemahkan optimisme publik dan memperuncing polarisasi. Tapi apakah kritik itu cukup untuk menutup suara keresahan yang nyata? Ketika anggaran pendidikan dipotong, harga bahan pokok melonjak, dan ruang hidup makin sempit karena proyek raksasa yang mengabaikan rakyat kecil, maka kemarahan publik bukanlah provokasi—melainkan konsekuensi.
Gerakan Indonesia Gelap adalah refleksi dari kontradiksi sosial yang makin lebar. Dan di tengah situasi ini, nama Tan Malaka kembali bergema. Dalam bukunya Aksi Massa, ia menulis:
“Aksi‑massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis… Aksi‑massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.” Kutipan itu menyentil gerakan rakyat yang sejati bukanlah alat elite atau agitasi kosong. Ia lahir dari kebutuhan mendesak rakyat untuk bertahan dan melawan sistem yang gagal melindungi mereka.
Kini, Indonesia Gelap telah menjadi cermin. Bukan sekadar gerakan mahasiswa, tapi tanda bahwa kesadaran kolektif tengah tumbuh. Jika suara-suara ini terus dijaga substansinya—jauh dari ego sektoral dan kepentingan kekuasaan, maka inilah potensi awal dari revolusi sosial yang berakar: bukan dengan senjata, tapi dengan keberanian menyuarakan kebenaran di tengah gelapnya keadaan.
(Muhammad Zidan Ramdani)





